Pura Ulun Danu Beratan / Bedugul Lake Temple

Pura Ulun Danu Beratan atau Lebih di kenal oleh wisatawan dengan Bedugul Lake Temple. lokasinya berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Tabanan, atau sekitar 55 kilometer dari Kota Denpasar. Untuk menuju pura ini, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum, seperti taksi, bus pariwisata, maupun agen perjalanan menuju jalur Denpasar-Singaraja. Pura ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Buleleng, berada di pinggir jalan raya, tepatnya di tepi Danau Beratan. Lokasi pura ini cukup istimewa karena berada di dataran tinggi Bedugul, yakni sekitar 1.239 meter di atas permukaan laut. Kondisi yang demikian membuat lingkungan pura cukup sejuk, dengan temperatur udara antara 18-22 derajat celsius. Selain itu, landscape Danau Beratan yang asri juga menambah suasana indah di tempat ini.Obyek wisata Pura Ulun Danu Beratan ini terbuka untuk kunjungan wisatawan antara pukul 08.00 sampai 18.00 Wita dengan Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 15 .000 per orang sedangkan harga tiket masuk wisatawan asing Rp 30.000 per orang.

Sejarah pendirian Pura Ulun Danu Beratan dapat dilacak pada salah satu kisah yang terekam dalam Lontar Babad Mengwi. Dalam babad tersebut dituturkan mengenai seorang bangsawan bernama I Gusti Agung Putu yang mengalami kekalahan perang dari I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk bangkit dari kekalahan tersebut, I Gusti Agung Putu bertapa di puncak Gunung Mangu hingga memperoleh kekuatan dan pencerahan. Selesai dari pertapaannya, ia mendirikan istana Belayu (Bela Ayu), kemudian kembali berperang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan memperoleh kemenangan. Setelah itu, I Gusti Agung Putu yang merupakan pendiri Kerajaan Mengwi ini mendirikan sebuah pura di tepi Danau Beratan yang kini dikenal sebagai Pura ulun Danu Beratan.Dalam Lontar Babad Mengwi juga dikisahkan bahwa pendirian pura ini dilakukan kira-kira sebelum tahun 1556 Saka atau 1634 Masehi, atau sekitar satu tahun sebelum berdirinya Pura Taman Ayun, sebuah pura lain yang juga didirikan oleh I Gusti Agung Putu. Pendirian Pura Ulun Danu Beratan konon telah membuat masyhur Kerajaan Mengwi dan rajanya, sehingga I Gusti Agung Putu dijuluki “I Gusti Agung Sakti” oleh rakyatnya. Berdasarkan tahun berdirinya pura Taman Ayun di Mengwi, maka dipastikan pura Ulun Danu di danau Beratan Bedugul tersebut didirikan sebelum tahun 1634 Masehi, sedangkan artefak yang ada di pura tersebut diperkirakan sudah ada 500 tahun sebelum masehi. Semenjak berdirinya pura tersebut kerajaan Mengwi menjadi termahsyur dan raja diberi gelar ” I Gusti Agung Sakti” oleh rakyatnya. Pura Ulun Danu Beratan ini diempon atau dipelihara oleh 4 desa satakan atau “gebug satak”, yang terdiri dari; Satakan Baturiti yang terdiri dari 6 bendesa adat, satakan Candi Kuning terdiri 5 bendesa adat, satakan Antapan mewilayahi 4 bendesa adat dan satakan Bangah terdiri dari 3 bendesa adat

Berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan, para wisatawan dapat menikmati keunikan pura dan lingkungan alam yang asri di sekitarnya. Suasana asri, sejuk, dan udara yang bersih mulai terasa sejak wisatawan menginjakkan kaki di lahan parkir menuju pura. Dari tempat parkir ini, wisatawan terlebih dahulu harus membeli karcis untuk memasuki lingkungan pura.Para wisatawan kemudian akan melewati jalan setapak yang dihiasi bunga-bunga, hamparan rumput  yang di rawat dgn baik, serta pepohonan cemara yang menghijau. Jalan setapak ini mengarah pada pintu masuk menuju pura (gapura).

Sebelum memasuki gapura, cobalah untuk menengok  ke kiri sejenak bangunan stupa (candi Buddha) yang hingga sekarang masih digunakan sebagai tempat ibadah. Tidak jauh dari areal pura, juga terdapat bangunan masjid sebagai tempat ibadah untuk umat muslim. Keberadaan stupa dan masjid ini mengingatkan kita betapa toleransi beragama sudah di praktekkan sejak lama oleh masyarakat Bali.

Memasuki gapura, kita akan melihat bangunan pura khas Bali yang dicirikan oleh menaranya yang bertingkat (meru). Di dalam kompleks pura setidaknya terdapat beberapa bangunan bermenara yang memiliki atap bertingkat, yaitu menara dengan atap 11 tingkat, 7 tingkat, dan 3 tingkat. Keberadaan menara bertingkat tersebut menggambarkan pemujaan terhadap tiga dewa, yakni Dewa Wisnu (11 tingkat), Dewa Brahma (7 tingkat), dan Dewa Siwa (3 tingkat). Yang menarik, karena terletak di tepi danau yang agak rendah, membuat daratan di sekitar pura kerap tergenang air ketika debit air danau sedang meluap. Kondisi ini menciptakan pemandangan yang sangat indah, di mana kompleks pura dengan gugusan menara bertingkat-nya seolah-olah berada di tengah danau. Keadaan saat air meluap ini merupakan momen terbaik untuk memotret Pura Ulun Danu Beratan.

Kawasan Pura Ulun Danu di danau Beratan Bedugul tersebut memiliki 5 buah komplek pura dan satu stupa Budha, ini menandakan saat berdirinya pura Ulun Danu tersbut sudah terjadi akulturasi budaya Hindu dengan Budha yang merupakan keselarasan dan harmoni antar umat beragama. Lima komplek pura tersebut diantaranya adalah; pura Penataran Agung menjadi tempat pemujaan Tri Purusha Siwa yaitu Dewa Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa, Pura Dalem Purwa sebagai stana Bhatari Durga dan Dewa Ludra, Pura Taman Beji sebagai tujuan upacara melasti dan memohon Tirta amertha, Pura Lingga Petak yang terletak di tengah danau sebagai sumber utama air dan kesuburan sebagai stana Dewi Sri dan Pura Prajapati sebagai stana Dewi durga

Meskipun dianggap sebagai tempat pemujaan kepada trimurti (Dewa Wisnu, Brahma, dan Siwa), namun sebetulnya pura ini semula merupakan tempat untuk memuja Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang merupakan simbol bagi kesuburan. Perkiraan ini merujuk pada kosmologi tentang lingga dan yoni, di mana Gunung Mangu (tempat bertapa I Gusti Agung Putu) dianggap sebagai lingga dan Danau Beratan sebagai yoni. Simbol-simbol lingga yoni secara nyata juga nampak pada beberapa bagian dalam kompleks pura ini. Simbol lingga-yoni merupakan simbol pemujaan kepada Dewa Siwa dan Dewi Parwati

Dugaan bahwa pura ini merupakan tempat pemujaan terhadap Siwa-Parwati makin menguat melihat fungsi pura ini sebagai pura subak, yakni pura yang disokong oleh organisasi sosial masyarakat Bali yang mengatur pembagian irigasi pertanian. Pura subak sendiri khusus dibuat untuk memohon kesuburan bagi pertanian. Para penganut Hindu yang bersembahyang di pura ini memuja dewi danau, atau dalam bahasa setempat disebut dewi danu (disebut juga dewi air). Dewi danu ini kemungkinan menunjuk kepada sosok Parwati, istri Siwa yang merupakan simbol kesuburan. Di sini nampak bahwa aktivitas pertanian di sekitar danau tak hanya didukung oleh sistem peririgasian yang baik, tetapi juga ditunjang oleh ritual agama yang kuat. Pura Ulun Danu Beratan memberikan gambaran yang cukup jelas bagaimana organisasi subak mengatur sistem irigasi pertanian dan sekaligus membangun sarana peribadatan untuk mengupayakan hasil panen yang melimpah.

Selain menjadi situs bersejarah yang merekam perkembangan ajaran Hindu pada masa Kerajaan Mengwi, kompleks Pura Ulun Danu Beratan juga menyimpan artefak lain yang berasal dari zaman megalitik (sekitar 500 tahun sebelum Masehi). Di sebelah kiri halaman depan Pura Ulun Danu Beratan dapat disaksikan sebuah sarkofagus dan papan batu. Sarkofagus merupakan peti batu yang biasa difungsikan untuk menyimpan mayat (kubur batu), sementara papan batu yang terdapat di lokasi yang sama diperkirakan sebagai tempat pemujaan masyarakat prasejarah. Temuan ini menunjukkan bahwa tempat dibangunnya pura sebelumnya juga telah digunakan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat arkais.

Selain berwisata sejarah, wisatawan juga dapat menikmati indahnya Danau Beratan yang memiliki kedalaman hingga 23 meter ini. Wisatawan yang merasa tidak puas hanya dengan memandanginya saja dapat menyewa perahu tradisional atau perahu motor untuk mengelilingi danau. Atau, jika ingin menjajal tantangan berbagai permainan air, dapat pula menyewa permainan parasailing, bana boat, serta jetski. Untuk sekedar menghabiskan waktu, wisatawan juga bisa memancing di tepi danau, tepatnya di bawah rimbunnya rumpun bambu untuk sekedar menghabiskan waktu. Apabila menginginkan suasana hutan dengan tanaman buah-buahan yang menggoda selera, wisatawan dapat menuju Kebun Raya Eka Karya yang terletak sekitar 300 meter dari Danau Beratan.

Sebagai sebuah obyek wisata sejarah dan religi, Pura Ulun Danu Beratan telah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas penunjang, seperti lahan parkir, taman bermain untuk anak, serta toilet. Taman bermain tersebut menyediakan berbagai sarana permainan, seperti ayunan, kursi putar, dan jungkat-jungkit. Di dekat taman bermain terdapat restoran yang menyajikan aneka masakan. Restoran ini biasanya akan penuh oleh pengunjung pada saat jam makan siang.

Wisatawan yang ingin mengelilingi danau dengan menyewa perahu dikenakan biaya sebesar Rp25.000,00 untuk satu kali keliling, dengan waktu sekitar 20 menit. Sedangkan bagi Anda yang ingin memancing dapat menyewa peralatan pancing seharga Rp5.000,00, dengan waktu pemakaian sepuasnya. Di sekitar pura juga terdapat jasa melukis wajah cepat, hanya dalam waktu 15 menit, dengan harga Rp10.000,00 untuk tiap lukisan. Sekiranya wisatawan menginginkan membeli oleh-oleh, di utara areal pura terdapat pasar tradisional. Di pasar ini dijual berbagai hasil perkebunan, pertanian, kerajinan khas bali, serta hewan khas Bali, yakni anjing kintamani, pasar ini di sebut pasar candi kuning

Tolong di Bagikan / Share yaa!

Comments are closed